Lewat MBG, Kadisdikbud Metro Tanamkan Disiplin, Toleransi, dan Tanggung Jawab

Intisarinews.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga berpotensi menjadi sarana efektif untuk membentuk karakter siswa di lingkungan sekolah.

Melalui kebiasaan makan bersama, siswa dapat belajar menerapkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, saling menghormati, hingga membangun budaya komunikasi yang santun dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro Dr. Agus Muhammad Septiana mengatakan, bahwa mengenai penguatan pendidikan karakter melalui program MBG. Menurutnya pendidikan karakter menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi global yang semakin sulit dibatasi.

 

“Siswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki kematangan moral, emosional, dan sosial,” kata dia. Sabtu (10/10)

 

Sehingga, kata dia, dalam perbincangannya dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat kunjungan pelaksanaan revitalisasi sekolah di SD Negeri 5 Metro Timur dan SMP Negeri 9 Metro pada 8 Oktober 2026. Dalam perbincangan itu, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pendidikan karakter bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut adalah program MBG.

 

“Pendidikan tidak semata-mata berfokus pada pencapaian akademik dan transfer pengetahuan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter, moral, dan etika peserta didik,” katanya

 

Ia menilai, pelaksanaan MBG dapat dikembangkan lebih jauh agar tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga menjadi bagian dari pembiasaan perilaku positif di sekolah.

 

Agus menjelaskan, aktivitas makan bersama di sekolah dapat menjadi semacam laboratorium sosial bagi siswa untuk belajar berinteraksi, menghargai perbedaan, serta memahami tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.

 

“Ketika siswa duduk bersama menikmati makanan, mereka berkesempatan membangun hubungan sosial tanpa membedakan latar belakang ekonomi, sosial, maupun budaya,” ucapnya.

 

Dalam situasi tersebut, siswa dilatih menghargai perbedaan, memahami kebiasaan teman, dan mengembangkan empati terhadap orang lain.

 

“Pembentukan karakter juga dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti mencuci tangan sebelum makan, mengantre dengan tertib, serta mengikuti jadwal makan bersama secara disiplin, Sementara setelah makan, siswa dibiasakan membersihkan wadah masing-masing, memilah sampah, dan mengembalikan peralatan makan ke tempat semula,” ungkapnya.

 

Menurut Agus, rutinitas tersebut menjadi cara konkret untuk menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Dengan pelaksanaan yang konsisten, perilaku positif diharapkan berkembang menjadi kebiasaan yang melekat pada diri peserta didik

 

Selain kedisiplinan dan tanggung jawab, pelaksanaan MBG juga dapat dimanfaatkan untuk membangun budaya komunikasi yang santun melalui penerapan three magic words atau tiga kata ajaib, yakni “mohon maaf”, “silakan”, dan “terima kasih”.

 

“Kata “mohon maaf” dibiasakan ketika siswa tidak sengaja bersenggolan, menyenggol makanan teman, atau melakukan kesalahan saat mengantre. Kata “silakan” digunakan untuk memberikan kesempatan kepada teman mengambil makanan lebih dahulu, menawarkan tempat duduk, atau berbagi kesempatan dengan orang lain, ” jelasnya.

 

Sementara itu, ucapan “terima kasih” ditanamkan sebagai bentuk penghargaan kepada petugas penyaji makanan, guru pendamping, maupun teman yang memberikan bantuan.

 

Pembiasaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesantunan dalam berkomunikasi sekaligus memperkuat sikap saling menghargai di lingkungan sekolah.

 

Agus menambahkan, pendidikan karakter melalui MBG dengan teori pembelajaran sosial yang dikembangkan Albert Bandura. Dalam teori tersebut, perilaku dapat dipelajari melalui pengamatan dan peniruan terhadap contoh yang diberikan orang lain.

 

Karena itu, guru dan petugas sekolah memiliki peran penting sebagai teladan bagi siswa, termasuk dalam menunjukkan perilaku tertib, sopan, dan bertanggung jawab selama kegiatan makan berlangsung.

 

Selain itu, pendekatan pendidikan karakter Thomas Lickona yang mencakup pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral juga dinilai relevan. Melalui MBG, siswa tidak hanya mengenal nilai-nilai kebaikan, tetapi berkesempatan mempraktikkannya secara langsung.

 

Bahkan, Untuk mengoptimalkan peran MBG dalam membentuk karakter siswa, Agus merekomendasikan agar setiap sekolah menyusun standar operasional prosedur (SOP) berbasis karakter.

 

Pedoman tersebut dapat memuat tata cara pelaksanaan makan bersama, adab saat makan, kedisiplinan mengantre, interaksi sosial, pengelolaan sampah, hingga pembiasaan menggunakan bahasa yang santun.

 

Guru pendamping juga diharapkan terlibat langsung dalam kegiatan makan bersama siswa. Kehadiran guru tidak hanya untuk mengawasi, tetapi juga memberikan contoh nyata mengenai etika, kedisiplinan, dan sikap saling menghormati.

 

Selain itu, sekolah dapat menerapkan penguatan positif atau positive reinforcement sebagai bentuk apresiasi kepada kelas maupun kelompok siswa yang menunjukkan kebiasaan terbaik dalam menjaga kebersihan dan menerapkan etika selama pelaksanaan MBG.

 

Agus menegaskan, keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup diukur dari pengetahuan siswa mengenai perilaku baik, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dengan demikian, MBG memiliki manfaat ganda, yakni mendukung kesehatan fisik sekaligus menjadi instrumen pembentukan karakter generasi muda.

 

“Melalui pembiasaan yang terarah dan keteladanan guru, program tersebut diharapkan dapat membantu membentuk siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga disiplin, toleran, bertanggung jawab, dan santun dalam berinteraksi dengan sesama,” tandasnya.

Loading

Related posts

Leave a Comment